September 30, 2008

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H



Allahuakbar Allahuakbar 3X

Laa ilaa ha illallahuAllahuakbar…

Allahuakbar Walillahilhamd.

“ Taqabbalallahu minna wa minkum…Shiyamana wa shiyamakum….”

Selamat Hari Raya Idul Fitri

1 Syawal 1429 Hijriyah

Semoga kita semua meraih kemenangan dan menjadi fitrah kembali.
Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan puasa, dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang telah diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Al Baqarah: 185)

Di puncak ibadah puasa dan lengkapnya bilangan Ramadhan, Allah SWT memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk mengagungkan asma-Nya, bertakbir atas petunjuk yang diberikan-Nya serta mensyukuri atas segala nikmat dari-Nya. Ibnu Katsier dalam tafsirnya mengartikan wa li tukabbiru Allaha ala maa hadaa kum dengan mengagungkan Allah atas hidayah dan tuntunan yang diajarkan lewat Rasul kepada manusia. Disunnatkan bertakbir ketika Idul Fitri untuk merayakan hari lulusnya umat Islam dari kewajiban puasa Ramadhan. Secara sosiologis ibadah sunnat ini melembaga dalam bentuk takbiran. Dengan rasa suka kaum muslimin bertakbir dengan pengeras suara di atas becak, truk, atau mobil sambil berkeliling kota. Takbir dalam Islam dapat dipandang sebagai ruh ibadah. Dalam salat di setiap perubahan gerak diawali dengan takbir. Ketika salat jamaah, maka takbir adalah komando bagi makmum untuk segera mengikuti gerakan imam salat. Paling tidak 85 kali sehari kaum Muslimin bertakbir mengagungkan asma Allah.

Takbir adalah sebuah al-ikrar suatu deklarasi ketundukan ego manusia pada kekuatan Mahabesar yang ada di luar diri mereka, ketaklukan pada sesuatu yang mendominasi hidup dan kehidupan mereka. Takbir adalah pengakuan jujur ketidak-berdayaan makhluk yang lemah kepada Khaliknya. Sekaligus pertanda kepasrahan diri manusia muslim kepada Rabb mereka. Maka dalam titik relijiusitas itu, manusia muslim sadar bahwa dalam kosmos yang tak terbatas ini dirinya sangat kecil. Diri manusia ibarat sebuah sel dalam tumbuhan raksasa. Dia hanya sebutir debu di tengah kabut galaksi Bima Sakti. Dia hanya seorang aktor dalam panggung nasib yang telah direkayasa Sang Sutradara Agung. Dia hanya seorang hamba yang terikat dan telah ber-syahadah untuk menjalankan seluruh perintah Allah.

Karenanya getaran takbir adalah obat mujarab untuk membersihkan karat-karat kepongahan jiwa. Air jernih yang mengguyur hati dan memunculkan kesegaran spiritual-transendental. Membunuh arogansi dan menyuburkan sikap tawadlu. Menjadi wajar kalau takbir menuntut dikumandangkan dengan kesiapan dan kesungguhan batin. Dan puncak semua kesadaran itu adalah terjadinya transformasi imam pada dimensi kasat mata. Batu uji empiris jiwa yang bertakbir adalah 'amal bil arkan. Maka adalah absurd kalau takbir tak pernah memunculkan refleksi sosiologis. Adalah dusta belaka kalau kebesaran Allah hanya diwujudkan dalam kata-kata dan sekedar kata-kata. Padahal takbir menuntut diperdengarkan dalam bentuknya yang utuh, yakni amal nyata menegakkan dienullah dalam diri, keluarga dan masyarakat. Sangat besar kemurkaan Allah bagi mereka yang menyatakan apa yang tidak diperbuatnya (Q.S. 61:3). Dalam penghujung Ramadhan ini marilah kita bersiap diri untuk bertakbir dengan segenap totalitas maknanya. Wallahu 'alam bishawab. (ah)





Juni 06, 2008

Bersyukur dalam Kesempitan

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

''Dan, hanya sedikit di antara hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur.'' (QS Saba' [34]: 13).

Dengan wajah sedih, seorang laki-laki datang kepada seorang ulama. Dia mengeluhkan kefakiran dan berbagai kemalangan hidup yang dialaminya. Ulama tersebut berkata, ''Apa kamu mau penglihatanmu diambil dan diganti dengan seribu dinar?'' Orang itu berkata, ''Tidak.''
Sang ulama bertanya lagi, ''Apa kamu senang menjadi orang bisu dan diberi seribu dinar?'' Orang tersebut menjawab, ''Tidak.'' Sang ulama yang dikenal saleh itu kembali bertanya, ''Apa kamu mau dua tangan dan dua kakimu buntung, lalu kamu mendapatkan dua puluh ribu dinar?'' Orang tersebut lagi-lagi menjawab, ''Tidak.''

''Apa kamu mau jadi orang gila dan dikasih sepuluh ribu dinar?'' tanya sang ulama lagi. Dan, sekali lagi orang tersebut mengatakan, ''Tidak.'' Maka, sang ulama bijak itu pun berkata, ''Terus, apa kamu ini tidak malu kepada Tuhanmu yang telah memberimu harta senilai puluhan ribu dinar?'' Kisah ini berbicara, betapa banyak orang salah persepsi, dikiranya nikmat hanya sebatas harta dan materi semata. Mereka tidak menyadari bahwa nikmat Allah meliputi segala hal: keimanan, kesehatan, keluarga, tempat tinggal, kepandaian, teman yang baik, pemimpin yang adil, tumbuh-tumbuhan, makanan, dan sebagainya. Itu semua adalah nikmat yang harus disyukuri, baik kita memintanya maupun tidak.

Untuk menjadi orang bersyukur, setidaknya ada tiga syarat yang harus dipenuhi. Pertama, mengetahui apa itu nikmat dan meyakini sepenuhnya bahwa nikmat tersebut adalah pemberian Allah. Kedua, bahagia dan gembira dengan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Dan, ketiga, melakukan hal-hal yang disukai oleh Pemberi Nikmat, baik melalui lisan dengan ucapan ''Alhamdulillah'' maupun melalui perbuatan-perbuatan yang disukai-Nya.

Melindungi Kehormatan Agama

Sungguh memprihatinkan jika melihat kondisi masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. Beragam persoalan datang silih berganti seakan tiada henti. Mulai dari permasalahan ekonomi, seperti inflasi yang tinggi, harga-harga bahan makanan yang naik, upah riil yang menurun, angka pengangguran yang masih tinggi, dan tingkat kemiskinan yang juga masih belum dapat dikurangi secara signifikan.

Kemudian, masalah politik, seperti konflik pilkada berkepanjangan di sebuah provinsi di wilayah timur Indonesia yang berpotensi menciptakan konflik horizontal yang lebih luas. Belum lagi, dengan kondisi global yang mengancam kepentingan bangsa, seperti tingginya harga minyak dunia yang sudah mencapai angka 115 dolar AS per barel, krisis pangan dunia, dan ancaman resesi global akibat krisis kredit perumahan rakyat di AS.

Selain itu, di antara masalah yang sangat berat menimpa umat Islam adalah munculnya beragam aliran sesat dan menyesatkan, yang berusaha melemahkan akidah dan keyakinan terhadap kebenaran ajaran Islam. Jika dibiarkan aliran-aliran seperti itu, akan menimbulkan kerusakan yang sangat besar. Umat Islam akan kehilangan pegangan dan arah.

Setiap orang akan memiliki kebebasan untuk menafsirkan, menginterpretasikan ajaran agama, dan membuat fatwa sesuai dengan logika pemahaman dan kepentingannya, meskipun tanpa memiliki dasar ilmu yang mencukupi.

Pantaslah jika Rasulullah SAW telah mengingatkannya dalam sebuah hadis bahwa sumber penyakit kronis agama itu ada tiga, yaitu penguasa yang zalim, ulama yang buruk, dan mujtahid yang bodoh namun suka berfatwa (HR Daelami dari Ibn Abbas).

Berkembangnya aliran sesat akibat kebodohan terhadap ajaran agama ini tidak boleh dibiarkan. Perlu ada tindakan tegas secara hukum agar keberadaan aliran-aliran sesat itu dapat diminimalisasi atau bahkan dihilangkan sama sekali.

Bentuk-bentuk aliran sesat
Secara umum, aliran sesat yang ditinjau dari aktivitasnya dapat dibagi ke dalam dua kelompok. Pertama, aliran sesat yang berupa gerakan bersifat pemikiran. Kedua, aliran sesat yang tidak hanya berhenti pada tataran pemikiran, namun telah berhimpun dalam sebuah organisasi yang lebih sistematis, yang memiliki jaringan dan struktur yang jelas, dan memiliki mekanisme rekrutmen anggota yang tertata dengan baik.

Sering kali kelompok yang kedua ini membentuk sebuah komunitas tersendiri yang bersifat sangat eksklusif dan terpisah dari komunitas umat Islam yang lain. Kelompok pertama didominasi oleh berbagai pemikiran yang mencoba untuk mendekonstruksi ajaran Islam yang sudah bersifat final, termasuk mengkritisi segala hal yang telah menjadi prinsip pokok dalam ajaran Islam. Misalnya, dengan berbagai dalih dan argumentasi, mereka menolak keyakinan bahwa ajaran Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan sempurna di sisi Allah SWT, sebagaimana yang dinyatakan dalam QS 5 : 3.

Bagi mereka, semua agama tidak ada bedanya karena bersumber dari Tuhan yang sama. Akibatnya, muncullah paham pluralisme agama yang melahirkan konsep relativisme agama. Kebenaran agama menjadi sesuatu yang bersifat relatif dan tidak mutlak. Pemikiran merusak dan berbahaya semacam ini sudah masuk ke berbagai kalangan dan kelompok, yang ujungnya akan menimbulkan keraguan dalam beragama (tasykik).

Meski demikian, bukan berarti ajaran Islam tidak mengakui adanya kemajemukan atau pluralitas. Pluralitas merupakan sesuatu yang bersifat sunatulah, sehingga menolak keberadaannya pada hakikatnya sama dengan menolak kebenaran hukum Allah. Dalam QS 49 : 13 misalnya, Allah SWT secara tegas menyatakan manusia itu diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku dengan tujuan untuk saling mengenal.

Begitu pula dengan perbedaan, di mana ia merupakan bagian dari sunatulah. Namun demikian, menyamakan sesuatu yang jelas-jelas secara diametral berbeda juga merupakan tindakan yang tidak sesuai dengan sunatulah. Karena, hanya akan menciptakan ketegangan dan konflik. Yang harus dikembangkan adalah sikap untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada.

Bahwa, setiap agama berbeda merupakan fakta kehidupan yang nyata. Menyamakan semua agama justru akan menjadi tindakan yang kontraproduktif. Karena, hanya akan menimbulkan gejolak negatif di tengah masyarakat. Selanjutnya, pada kelompok aliran sesat yang kedua, selain membentuk komunitas yang sangat eksklusif, mereka juga sering membuat aturan-aturan dan doktrin ajaran yang bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Misalnya, tidak boleh menikah dengan umat Islam di luar komunitasnya, karena mereka menganggap bahwa umat Islam di luar komunitasnya adalah kafir dan sesat.

Kemudian, pada beberapa kelompok, untuk melegitimasi para pendiri dan pemimpinnya, dimunculkan pemahaman bahwa Nabi Muhammad SAW bukan merupakan nabi dan rasul terakhir. Sehingga, para pemimpin tersebut dapat dengan leluasa mengklaim dirinya sebagai utusan Allah. Padahal, hal tersebut jelas-jelas melanggar firman Allah dalam QS 33 : 41 yang menegaskan posisi Nabi Muhammad SAW sebagai khataman nabiyyin wal mursalin (penutup para nabi dan rasul).

Di antara kelompok yang termasuk dalam kategori ini adalah Ahmadiyah, yang hingga saat ini tidak menunjukkan itikad baik untuk melaksanakan 12 butir penjelasan Pengurus Besar (PB) Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) pada 14 Januari 2008 secara konsisten dan bertanggung jawab.

Dua solusi
Untuk mencegah dampak negatif yang ditimbulkan oleh berbagai aliran sesat tersebut, ada dua langkah solusi yang dapat dilakukan. Pertama, hendaknya pemerintah dan masyarakat merujuk pada fatwa MUI dalam menilai sesat tidaknya sebuah aliran keagamaan. Karena, MUI merupakan wadah representatif para ulama yang berasal dari berbagai ormas keagamaan yang berbeda-beda.

Kedua, perlunya tindakan tegas secara hukum dari pemerintah. Pemerintah tidak perlu ragu untuk membubarkan kelompok-kelompok aliran sesat yang ada. Bagaimanapun, kehormatan dan kemuliaan agama harus dilindungi. Insya Allah, umat dan masyarakat akan senantiasa mendukung kebijakan tersebut. Wallahu'alam.

Oleh : KH Didin Hafidhuddin